Lautan Manusia di Haul Akbar: Meneladani Akhlak Sulthanul Auliya’ di Jantung Ibu Kota

Gema Dzikir dan Shalawat Menggetarkan Langit Jakarta

Gema dzikir dan shalawat membahana, memantul agung dari pilar-pilar kokoh Masjid Istiqlal, Jakarta. Malam itu, Ahad (23/06/2024), jantung ibu kota seakan berhenti sejenak dari hiruk pikuk duniawi, digantikan oleh denyut spiritual yang khusyuk dan syahdu. Puluhan ribu umat Islam dari berbagai penjuru Jabodetabek, bahkan dari luar daerah, tumpah ruah menjadi satu lautan manusia. Mereka datang dengan satu niat suci: menghadiri Haul Akbar Sulthanul Auliya’ Syekh Abdul Qadir Al-Jailani Qaddasallahu Sirrahu.

Pemandangan di dalam dan di luar masjid sungguh menyejukkan kalbu. Shaf-shaf terisi penuh, meluber hingga ke pelataran luas. Wajah-wajah yang hadir memancarkan kerinduan dan cinta kepada para kekasih Allah. Mereka duduk bersimpuh, larut dalam lantunan qasidah, ratib, dan munajat, seolah melepaskan segala beban dunia dan menyerahkan diri sepenuhnya ke hadirat Ilahi. Acara ini bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan sebuah oase spiritual di tengah padang pasir kehidupan modern yang seringkali kering dan melelahkan.

Menyelami Samudera Keteladanan Sang Raja Para Wali

Puncak acara diisi dengan tausiyah yang menggugah jiwa, disampaikan oleh Al-Habib Abdullah bin Ja’far Assegaf. Dalam ceramahnya, beliau menekankan pentingnya meneladani tiga pilar utama dalam ajaran Syekh Abdul Qadir Al-Jailani: keteguhan dalam syariat, kesucian dalam thariqah (jalan spiritual), dan kedalaman dalam hakikat.

“Syekh Abdul Qadir bukanlah sosok yang hanya dikenal karena karamahnya semata,” ujar Habib Abdullah. “Jauh lebih penting dari itu adalah istiqamahnya dalam memegang teguh Al-Qur’an dan Sunnah. Beliau adalah lautan ilmu syariat sebelum menjadi samudra hakikat. Inilah pelajaran terbesar bagi kita semua, terutama bagi generasi muda: jangan pernah bermimpi mencapai puncak spiritualitas dengan meninggalkan fondasi syariat yang telah digariskan oleh Rasulullah SAW.”

See also  Kajian Aswaja Buya Yahya, Idrus Ramli, Luthfi Bashori "Sunni Islam"

Lebih lanjut, beliau mengisahkan bagaimana akhlak Syekh Abdul Qadir Al-Jailani menjadi magnet yang menarik jutaan manusia ke jalan Allah. Sifat kedermawanannya yang luar biasa, kesabarannya dalam menghadapi cobaan, serta kasih sayangnya kepada kaum fakir miskin adalah cerminan langsung dari akhlak mulia Baginda Nabi Muhammad SAW. “Jika kita mengaku sebagai murid beliau, sebagai pecinta beliau, maka buktikan dengan meneladani akhlaknya. Mulailah dari hal kecil: jaga lisan kita dari menyakiti orang lain, ringankan tangan kita untuk bersedekah, dan lapangkan hati kita untuk memaafkan,” tegasnya.

Haul: Ikhtiar Menyambung Sanad dan Meraih Barakah

Di tengah sebagian kalangan yang mungkin masih mempertanyakan esensi acara haul, majelis ini menjadi jawaban yang gamblang. Haul bukanlah bentuk pengkultusan atau penyembahan kepada selain Allah. Sebagaimana dijelaskan dalam ajaran Ahlussunnah wal Jama’ah, haul adalah majelis tadzakkur (mengingat), tadabbur (merenung), dan tabarruk (mencari keberkahan).

Dengan mengenang kisah hidup dan perjuangan para auliya, kita diingatkan bahwa jalan menuju Allah adalah jalan yang nyata dan pernah ditempuh oleh manusia-manusia pilihan. Mereka adalah bukti bahwa ketinggian spiritual dapat diraih dengan kesungguhan iman dan amal. Melalui acara seperti ini, kita ber-tawassul, mengambil perantara dengan menyebut nama orang-orang saleh, berharap doa kita lebih didengar oleh Allah SWT berkat kemuliaan mereka.

Ini adalah ikhtiar untuk menyambungkan sanad ruhani kita kepada mata rantai emas para ulama dan wali, yang bersambung tanpa putus hingga kepada Rasulullah SAW. Di zaman yang penuh dengan fitnah dan pemikiran sesat, berpegang pada sanad keilmuan dan spiritual yang jelas adalah sebuah keniscayaan untuk menjaga kemurnian akidah.

Potret Ukhuwwah Islamiyyah yang Menyejukkan

Satu hal yang paling menonjol dari Haul Akbar ini adalah potret persatuan dan persaudaraan (ukhuwwah Islamiyyah). Tidak ada sekat status sosial, afiliasi organisasi, maupun latar belakang ekonomi. Semua membaur menjadi satu dalam cinta kepada Allah, Rasul-Nya, dan para wali-Nya. Seorang direktur perusahaan bisa duduk berdampingan dengan seorang pedagang asongan, seorang pejabat pemerintah khusyuk berdzikir di sebelah seorang santri dari kampung.

See also  Habib Munzir Mbah Priok 2010: Meneladani Diplomasi Damai Sang Sultanul Qulub dalam Menjaga Warisan Waliullah

Inilah keindahan ajaran Islam yang sesungguhnya. Majelis-majelis seperti ini adalah benteng pertahanan terkuat dari upaya adu domba dan perpecahan umat. Ketika hati telah disatukan oleh dzikir dan shalawat, maka segala perbedaan pandangan duniawi menjadi tidak berarti.

Acara ditutup dengan doa bersama yang dipimpin oleh para habaib dan kiai sepuh. Isak tangis haru terdengar di banyak sudut masjid, menandakan getaran iman yang menyentuh relung hati para jamaah. Mereka pulang bukan dengan tangan hampa, melainkan dengan semangat yang baru, hati yang lebih bersih, dan tekad yang lebih kuat untuk menjadi pribadi yang lebih baik, meneladani sang Sulthanul Auliya’ dalam setiap langkah kehidupan.


Spesial Majelis

7ML PARFUM ROLL ON NON ALCOHOL, PARFUM TERLARIS, AROMA PALING BEST SELLER WAJIK 7ML. HARGA GROSIR. TERMURAH

🛒 Cek Promo Spesial

Leave a reply

Enable Notifications OK No thanks